Teori Konspirasi Mengenai Tentang Mewabahnya Omicron

Teori Konspirasi Mengenai Tentang Mewabahnya Omicron – Seperti yang saat ini sudah banyak kita ketahui bahwa dunia sedang adanya wabah omicron yang membuat banyak orang takut untuk keluar dari rumah bahkan untuk dapat berpergian.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko, mengatakan isu chemtrails dapat diklasifikasikan sebagai teori konspirasi yang menyebar dan membuat kepanikan publik. Chemstrails merupakan gabungan chemistry (kimia) dan trails (jejak), yang dimaknai sebagai penyebaran zat kimia tertentu–biasanya beracun atau berbahaya, melalui pesawat terbang.

Karena penyebarannya dilakukan dari udara, kata Urip, dampak terhadap paparan zat kimia ini dapat dirasakan secara luas dan sulit dimitigasi.

1. Klaim chemtrails dan dampak negatifnya tidak terbukti
Mengutip penelitian yang ditulis J Marvin Herndon dan timnya berjudul “Chemtrails are Not Contrails:  chriscoello Radiometric Evidence”, Urip menyebut, sampai saat ini, klaim chemtrails dan dampak negatifnya tidak terbukti.

“Belum ada laporan resmi atau publikasi ilmiah yang menyebutkan keberadaan, apalagi akibat buruk yang dapat ditimbulkan. Salah satu kajian menunjukkan bahwa klaim chemtrails tidak benar, karena tidak ada kandungan zat kimia yang berbahaya dari jejak yang ditinggalkan oleh pesawat terbang,” tulis laporan yang tayang di Journal of Geography, Environment and Earth Science International, Maret 2020.

2. Apa itu fenomena chemtrails?
Urip menjelaskan chemtrails adalah condensation trails atau sering disingkat sebagai contrails. Contrails adalah fenomena yang terjadi di udara akibat emisi dari mesin jet pesawat terbang, yang bertemu dengan udara pada temperatur yang sangat rendah.

Proses pembentukan contrails diinisiasi emisi uap air pada temperatur tinggi dari mesin jet pesawat terbang, yang dengan cepat bertemu udara pada temperatur rendah. Pertemuan ini berturut-turut dilanjutkan dengan proses kondensasi alias perubahan uap air menjadi air, dan proses sublimasi atau air menjadi kristal es.

“Proses ini dapat disetarakan dengan proses pembentukan awan,” ujar Urip.

Meski demikian, keberadaan contrails di udara bergantung pada kondisi atmosfer seperti penyinaran matahari, perbedaan temperatur, dan wind shear atau perubahan instan arah dan kecepatan angin. Pada kondisi atmosfer yang stabil, contrails dapat bertahan lama dan menyebar secara lateral.

“Contrails menjadi fenomena yang penting dalam pembahasan mengenai pemanasan global. Hal ini karena keberadaannya di lapisan udara yang tinggi dapat memiliki karakter yang mirip dengan awan cirrus,” kata Urip

Awan cirrus merupakan awan pada lapisan udara tinggi yang dapat memantulkan balik radiasi gelombang panjang kembali ke permukaan bumi. Akibatnya, temperatur di permukaan bumi dapat menjadi lebih panas dari kondisi normalnya.

3. COVID-19 tidak dapat bertahan di sinar ultraviolet dan ruang minim oksigen
Urip menyebutkan ada dua pendekatan untuk menjawab kesalahan informasi mengenai fenomena contrails dan wabah Omicron. Pertama, kata dia, Arias-Reyes, et al. yang berjudul “Does the pathogenesis of SARS-CoV-2 virus decrease at high-altitude? Respiratory physiology & neurobiology”, menyimpulkan bahwa proses pembentukan unsur patogen (berbahaya) dari virus SARS-CoV-2 berkurang pada lokasi dengan elevasi tinggi.

“Hal ini disebabkan karena virus tidak dapat bertahan lama pada lingkungan seperti ini, karena minimnya lapisan oksigen. Contrails biasanya nampak pada ketinggian 7.000 meter sampai dengan 13.000 meter dengan lapisan oksigen yang sangat tipis,” ungkap dia.

Kedua, menurut Urip, jika terdapat virus SARS-CoV-2 atau COVID-19, keberadaan sinar ultraviolet (UV) di udara mematikan virus ini, sehingga tidak dapat menyebar secara luas dan sampai ke permukaan.